rhadimuharam's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

Ayo Menulis

 

Seperti hari-hari sebelumnya, aku masih saja berkutat dengan tema apa yang akan ku tuliskan. Masih bingung mencari judul yang pas untuk ditulis. Membuat novel, terlalu panjang, dan memakan waktu yang tidak sedikit. Membuat cerpen, lagi-lagi tema yang akan diangkat masih bingung.

Kata orang menulis itu hanya modal kebiasaan saja, memang kita hanya membiasakan diri saja dan musuhnya hanya satu, malas. Ya..itulah yang sedang aku alami sekarang, malas. Malas untuk menuangkan apa yang sedang ku pikirkan. Padahal ide-ide cemerlang terkadng melintas di kepala dan tidak sedikit yang kembali tenggelam menghujam dan hilang karena tidak segera dituliskan.

Gampang-gampang sulit menulis itu, tak segampang yang dipikirkan, butuh konsentrai penuh dan kebiasaan. Modalnya hanya membiasakan diri nongkrong di depan monitor computer dan membiasakan diri untuk memusuhi yang namanya malas. Jika rasa malas itu sudah hilang. Dijamin menjadi penulis yang handal dan terkenal, amin.

Modal kedua adalah kreatifitas. Apabila kita sudah membiasakan diri tenggelam dalam tulisan dan tak akan pernah berhenti menghentakan jemari dalam keyboard, jurus ampuh berikutnya adalah kreatifitas. Bagaimana mencari kreatifitas, ya,,banyak pengalaman dan membaca. Tidak hanya membaca yang menurut kita enak di baca, membaca buku yang menurut kita tidak suka juga perlu dilakukan. Untuk menambah perbendaharaan kata dan pengalaman, sehingga dapat memperkaya tulisan-tulisan kita.

Selain kreatifitas, menurutku ada satu lagi yang diperlukan untuk bisa segera dengan lancar bisa menulis, yaitu membiasakan diri berfikir keras. Jangan pernah takut bahwa dengan berfikirk keras kita akan stress atau sakit. Tidak akan pernah. Otak dan tempurung kepala kita sudah dirancang oleh Tuhan YME dan dari sononya untuk memikirkan dan memecahkan persoalan yang kerap dihadapi umat manusia. Jadi nggak usah takut dengan berfiir keras kita akan sakit dan tidak akan bisa tidur. Justru dengan berfikir otak kita akan terbuka dan bekerja sebagimana mestinya.

Jangankan kita, orang sehebat Nabi Muhammd SAW yang mencoba menyelamatkan umat manusia dan mengalami segala macam rintangan fisik dan moral atau Albert Enstein yang menemukan lampu bolham tidak pernah mengalami kepalanya keluar asap karena berfikir keras. Apalagi kita yang hanya berfikir mencari tema apa yang akan dituliskan untuk di baca orang banyak. Tidak 10 persen pun cara kerja otak kita jika dibandingkan dengan cara kerja otak kedua orang hebat tersebut.

Go….ayo rajin menulis…

 

Wisata Angkot? Wisata Macet?

 

Apa yang dialami oleh Andrea Hirata, seorang novelis tersohor seantero Indonesia, terjadi juga dengan apa yang dialami oleh Rachman, seorang pegawai IPB. Kami sama-sama memiliki pengalaman ketika datang ke Bogor. Yaitu turun dari bus di bawah pohon beringin, di depan KFC Baranangsiang.
Kami sama-sama bingung. Apabila Andrea Hirata bingung karena kesasar, maka saya pun bingung ketika mencari kendaraan menuju Taman Kencana. Karena kendaraannya “ngetem” di belakang Terminal Baranangsiang. Terpaksa harus berjalan kaki untuk menemui kendaraan yang beroda tiga itu, alias “Bemo”.
Naik Bemo adalah pengalaman unik pertama ketika saya menginjakan kaki di Bogor. Bemo adalah kendaraan eksotis, memiliki tiga roda, dan suara knalpotnya khas, krotok..tok..tokk. Jika dilihat sepintas, kendaraan ini adalah modifikasi dari motor bermerk vespa buatan India.
Penumpangnya eklusif, hanya mengangkut 6 orang dewasa saja, tidak kurang. Hati-hati bagi orang yang memiliki kaki panjang, karena sepanjang perjalanan kaki anda akan selalu berbenturan dengan kaki penumpang lain yang berada di depan anda. Beruntunglah anak-anak atau mereka yang memiliki kaki pendek.
Apabila kita ingin berhenti, maka dua logam tipis yang berada di atas kepala kita harus di “pencet” dan lampu yang berada di “kokpit” akan menyala. Pertanda mobil harus berhenti. Sopir yang selalu membawa handuk “kumel” dan diselempangkan di bahu itu akan merapatkannya di trotorat jalan.
Sepanjang jalan antara Tugu Kujang dan Plaza Pangrango, saya terkagum-kagum melihat hijaunya Kota Bogor. Dimana kehijauan itu adalah Kebun Raya Bogor yang tersohor itu. Posisinya berada di sebelah kiri. Sementara, sebelah kanan adalah sebuah bangunan perguruan tinggi Institut Pertanian Bogor. Di sampingnya berderet beberapa rumah tua zaman Belanda, bukan “outlet”, dan sebuah Rumah sakit umum.
Maklum, saya masih new visitor, jadi agak kampungan. Beberapa penumpang tersenyum melihat tingkah laku “wong udik”ini
Tidak disadari keadaan lalu lintas macet. Terkadang Bemo harus berhenti dan sang pilot di kokpit kembali mengelap peluh yang mengucur.
Kemacetan, waktu itu tidak menjadikan suasana hati menjadi jenuh, marah, atau bosan. Malahan saya berharap agar kemacetan ini tidak pernah berhenti. Dengan seperti itu bisa leluasa menikmati indah dan sejuknya suasana di Kota Bogor. Hmm…nyaman sekali.
Sama halnya ketika pertamakali kita mengunjungi kota-kota di dalam atau luar negeri. Ke Bandung, Yogyakarta, London, kita pasti akan terpana dan ingin berlama-lama menikmatinya, apalagi tujuannya adalah kota favorit.
Beberapa hari setelah kedatangan di Bogor, saya selalu menyempatkan diri untuk berjalan-jalan menikmati suasana Kebun Raya Bogor. Biasanya menggunakan angkutan kota (angkot), dan waktu itu saya berfikir angkot di Bogor bisa meniru andong-andong di Malioboro, Yogyakarta.
Mengendalikan macet dengan solusi Wisata angkot? atau Wisata Kemacetan?. Mungkin bisa dicoba, selain menambah penghasilan para sopir juga memperkenalkan wisata Bogor.
Selama ini solusi-solusi teknis selalu mengalami kebuntuan. Pengurangan angkot, penambahan fasilitas jalan, mengurangi pusat keramaian (mall), membenahi Pedagang Kaki Lima (PKL), membenahi tata ruang dan sebagainya.
Bogor adalah kota eksotis tujuan wisatawan dalam atau luar negeri. Jika bisa bertahan dengan kota hujan, kota hijau, kota 1000 misteri, mereka akan berduyun-duyun datang ke Bogor. Yang dirubah adalah pola pikir, nikmatilah suasana Bogor yang asri ini, dan kabarkanlah kepada dunia Bogor masih hijau, nyaman dan dingin. Air dan gunungnnya masih segar. (rhman)

 

Hello world!

 

Welcome to Personal Web Dosen IPB. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!