rhadimuharam's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

Wisata Angkot? Wisata Macet?

 

Apa yang dialami oleh Andrea Hirata, seorang novelis tersohor seantero Indonesia, terjadi juga dengan apa yang dialami oleh Rachman, seorang pegawai IPB. Kami sama-sama memiliki pengalaman ketika datang ke Bogor. Yaitu turun dari bus di bawah pohon beringin, di depan KFC Baranangsiang.
Kami sama-sama bingung. Apabila Andrea Hirata bingung karena kesasar, maka saya pun bingung ketika mencari kendaraan menuju Taman Kencana. Karena kendaraannya “ngetem” di belakang Terminal Baranangsiang. Terpaksa harus berjalan kaki untuk menemui kendaraan yang beroda tiga itu, alias “Bemo”.
Naik Bemo adalah pengalaman unik pertama ketika saya menginjakan kaki di Bogor. Bemo adalah kendaraan eksotis, memiliki tiga roda, dan suara knalpotnya khas, krotok..tok..tokk. Jika dilihat sepintas, kendaraan ini adalah modifikasi dari motor bermerk vespa buatan India.
Penumpangnya eklusif, hanya mengangkut 6 orang dewasa saja, tidak kurang. Hati-hati bagi orang yang memiliki kaki panjang, karena sepanjang perjalanan kaki anda akan selalu berbenturan dengan kaki penumpang lain yang berada di depan anda. Beruntunglah anak-anak atau mereka yang memiliki kaki pendek.
Apabila kita ingin berhenti, maka dua logam tipis yang berada di atas kepala kita harus di “pencet” dan lampu yang berada di “kokpit” akan menyala. Pertanda mobil harus berhenti. Sopir yang selalu membawa handuk “kumel” dan diselempangkan di bahu itu akan merapatkannya di trotorat jalan.
Sepanjang jalan antara Tugu Kujang dan Plaza Pangrango, saya terkagum-kagum melihat hijaunya Kota Bogor. Dimana kehijauan itu adalah Kebun Raya Bogor yang tersohor itu. Posisinya berada di sebelah kiri. Sementara, sebelah kanan adalah sebuah bangunan perguruan tinggi Institut Pertanian Bogor. Di sampingnya berderet beberapa rumah tua zaman Belanda, bukan “outlet”, dan sebuah Rumah sakit umum.
Maklum, saya masih new visitor, jadi agak kampungan. Beberapa penumpang tersenyum melihat tingkah laku “wong udik”ini
Tidak disadari keadaan lalu lintas macet. Terkadang Bemo harus berhenti dan sang pilot di kokpit kembali mengelap peluh yang mengucur.
Kemacetan, waktu itu tidak menjadikan suasana hati menjadi jenuh, marah, atau bosan. Malahan saya berharap agar kemacetan ini tidak pernah berhenti. Dengan seperti itu bisa leluasa menikmati indah dan sejuknya suasana di Kota Bogor. Hmm…nyaman sekali.
Sama halnya ketika pertamakali kita mengunjungi kota-kota di dalam atau luar negeri. Ke Bandung, Yogyakarta, London, kita pasti akan terpana dan ingin berlama-lama menikmatinya, apalagi tujuannya adalah kota favorit.
Beberapa hari setelah kedatangan di Bogor, saya selalu menyempatkan diri untuk berjalan-jalan menikmati suasana Kebun Raya Bogor. Biasanya menggunakan angkutan kota (angkot), dan waktu itu saya berfikir angkot di Bogor bisa meniru andong-andong di Malioboro, Yogyakarta.
Mengendalikan macet dengan solusi Wisata angkot? atau Wisata Kemacetan?. Mungkin bisa dicoba, selain menambah penghasilan para sopir juga memperkenalkan wisata Bogor.
Selama ini solusi-solusi teknis selalu mengalami kebuntuan. Pengurangan angkot, penambahan fasilitas jalan, mengurangi pusat keramaian (mall), membenahi Pedagang Kaki Lima (PKL), membenahi tata ruang dan sebagainya.
Bogor adalah kota eksotis tujuan wisatawan dalam atau luar negeri. Jika bisa bertahan dengan kota hujan, kota hijau, kota 1000 misteri, mereka akan berduyun-duyun datang ke Bogor. Yang dirubah adalah pola pikir, nikmatilah suasana Bogor yang asri ini, dan kabarkanlah kepada dunia Bogor masih hijau, nyaman dan dingin. Air dan gunungnnya masih segar. (rhman)

 

No Responses to “Wisata Angkot? Wisata Macet?”

 

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.